
Joyce, perempuan asli New York, sudah siap mental bahwa mencari apartemen solo pertamanya di kota itu tidak akan mudah. Setelah melihat banyak unit kecil dan mahal yang menurutnya "tidak layak huni," ia akhirnya menemukan apartemen impiannya: studio di Manhattan dengan harga masuk akal, luas, ada perapian, dan dapur yang tampak baru direnovasi. Tapi begitu ia datang untuk melihat langsung, apartemen yang ada di depannya bukan apartemen yang sama seperti di foto. Ia bukan satu-satunya yang kecewa — lima perempuan lain juga datang untuk melihat unit yang ternyata berbeda dari iklannya.
Inilah salah satu efek samping dari maraknya penggunaan AI generatif di industri properti. Foto-foto listing apartemen kini semakin mudah dimanipulasi atau dibuat sepenuhnya dengan AI — ruangan terlihat lebih luas, lebih cerah, lebih bersih dari kenyataannya. Platform listing properti memang belum punya standar ketat soal pengungkapan penggunaan AI dalam foto, sehingga calon penyewa sulit membedakan mana foto asli dan mana yang sudah "disulap."
Dampaknya bukan sekadar kekecewaan sesaat. Bagi para pencari hunian, khususnya di kota-kota dengan pasar sewa yang sudah sangat kompetitif seperti New York, waktu dan energi yang terbuang karena listing menyesatkan bisa sangat merugikan. Kepercayaan terhadap platform properti online pun mulai terkikis, dan muncul pertanyaan serius soal tanggung jawab platform dalam mengatur konten yang dibuat atau dimodifikasi dengan AI.
Yang menarik untuk diikuti ke depan adalah bagaimana regulator dan platform properti akan merespons tren ini. Apakah akan ada kewajiban label "foto dimodifikasi AI"? Atau justru teknologi verifikasi foto yang akan jadi solusi? Kasus-kasus seperti yang dialami Joyce kemungkinan hanya permulaan dari masalah yang lebih luas seiring AI generatif makin mudah diakses siapa saja.