
Meredith Whittaker, pemimpin aplikasi pesan terenkripsi Signal, angkat bicara soal bahaya persepsi keliru terhadap chatbot AI. Ia menegaskan bahwa chatbot seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini bukanlah entitas yang sadar atau berperasaan. Pernyataannya ini muncul di tengah tren jutaan orang yang mulai menjadikan AI sebagai tempat curhat, teman harian, bahkan pengganti hubungan sosial.
Whittaker dikenal sebagai salah satu suara kritis paling vokal di dunia teknologi, terutama soal privasi dan etika AI. Signal sendiri membangun reputasinya justru dengan menolak model bisnis berbasis data pengguna yang banyak dipakai platform besar. Kekhawatirannya bukan tanpa dasar — beberapa aplikasi AI companion memang dirancang agar terasa "akrab" dan emosional, yang bisa mendorong ketergantungan pengguna.
Ini penting karena batas antara "alat bantu" dan "teman virtual" makin kabur, dan industri AI punya insentif finansial untuk membuat batas itu semakin tipis. Jika pengguna salah kaprah menganggap chatbot sebagai makhluk sadar, mereka bisa berbagi informasi sensitif secara berlebihan atau membuat keputusan hidup berdasarkan "saran" sistem yang sejatinya hanya memprediksi kata berikutnya.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana regulasi dan literasi digital akan merespons fenomena ini. Apakah platform AI akan diwajibkan memberi label jelas bahwa chatbot bukan entitas berperasaan? Sikap Whittaker mewakili suara yang makin keras menuntut kejujuran dari industri AI soal apa sebenarnya produk mereka.