Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeShorts
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH17 jam lalu

Google DeepMind Gelontorkan $75 Juta untuk AI di Hollywood Bareng A24

Google DeepMind resmi bermitra dengan A24, studio film indie terkemuka di balik film-film seperti *Everything Everywhere All at Once* dan *Midsommar*, untuk membangun perangkat AI khusus pembuatan film. Kolaborasi senilai $75 juta ini menjadi salah satu taruhan terbesar Google di ranah AI kreatif, sekaligus sinyal kuat bahwa industri hiburan mulai serius memeluk teknologi ini.

A24 dikenal sebagai studio yang punya selera artistik tinggi dan berani mengambil risiko kreatif — jadi pilihan mitra yang cukup mengejutkan sekaligus menarik. Alih-alih menggandeng studio raksasa Hollywood mainstream, Google DeepMind memilih pemain yang reputasinya dibangun di atas orisinalitas dan kualitas sinematik. Kerja sama ini kemungkinan akan menghasilkan tools untuk produksi visual, pengeditan, atau bahkan pengembangan skrip berbasis AI.

Langkah ini penting karena menandai masuknya AI generatif secara serius ke dalam rantai produksi konten premium, bukan sekadar konten massal atau otomatisasi editing murahan. Jika berhasil, ini bisa mengubah cara film dibuat dari hulu ke hilir — mulai dari pra-produksi hingga pasca-produksi — dan memicu gelombang adopsi serupa di studio-studio lain. Di sisi lain, ini juga memantik perdebatan soal peran manusia (penulis, sineas, seniman) di era AI.

Yang menarik untuk diikuti adalah seperti apa wujud konkret tools yang dihasilkan dari kemitraan ini, dan apakah hasilnya benar-benar akan terasa dalam film-film A24 ke depan. Jika A24 — yang selama ini identik dengan sentuhan manusiawi yang kuat — bisa membuktikan bahwa AI justru memperkaya proses kreatif tanpa mengorbankan jiwa artistiknya, itu akan jadi argumen paling kuat yang pernah ada untuk AI di dunia sinema.

Baca artikel asli di TechCrunch →